Thursday, 14 February 2013

Apel dan Kau



Sebut aku aneh karena percayalah pemahaman ini datang tanpa  kukehendaki. Pagi ini aku mencuci gelas bekas jus apel yang kemarin dipakai praktek biologi di lab. Aku jadi ingat sebuah peribahasa barat yang cukup terkenal dikalangan medis; ‘One apple per day, keeps doctor away’ . Buah yang penuh antioksidan ini sudah dibuktikan sangat bermanfaat bagi tubuh dan mencegah penyakit. Tapi aku tidak akan menuliskan karya ilmiah disini. Tidak untuk kertas ini. Aku lebih suka menuliskan apa yang tidak bisa kukatakan. Dan, ya, ini mengenai perasaan.

Seperti halnya apel, orang itu menjauhkanku dari dokter. Aku tidak melupakan fakta bahwa dokter sama baiknya dengan apel. Tidak, aku tidak lupa. Hanya saja, kau tahu, dokter datang bak penyelamat saat kau sakit. Jadi kau harus sakit dulu untuk lalu disembuhkan olehnya. Hanya untuk berjaga-jaga kalau kau lupa, aku mengingatkan padamu bahwa sakit itu tidak enak. Tidak ada untungnya sakit walau cuma sebentar saja. Apalagi kalau sakitnya bersifat nonfisik. Eh?

Tapi sebaik-baiknya apel, aku menyayangkan kenyataan bahwa buah ini sangat cepat terinfeksi bakteri yang membuat warnanya menjadi kecoklatan. Lebih cepat dari buah manapun yang aku tahu.Yang lebih disayangkan lagi, bakterinya menginfeksi ketika aku mengupas kulitnya. Jadi aku tidak akan menyangkal tuduhan bahwa ini semua salahku. Aku tidak menyalahkan bakterinya, duh. Sama sekali tidak. Tidak ada gunanya marah-marah sama bakteri. Itu hanya akan membuat orang-orang semakin gatal untuk memperiksakanku ke rumah sakit jiwa. Kayak aku yang sekarang ini belum cukup saja ya-ha.

Aku sedang mendengarkan Ada Cinta dari Acha- Irwansyah saat aku menulis ini.  Lagu ini sudah kuputar sekitar ratusan kali sejak aku mendapatkannya tadi siang. Diantara rasa tidak senangku terhadap industri musik Indonesia yang marak sekarang ini dan kesenanganku terhadap musik barat dan jepang, aku adalah jenis spesies aneh yang masih sangat menyukai lagu Indonesia era tujuh tahun lalu. Mereka—entah bagaimana—jarang sekali gagal menyampaikan perasaan dalam karya-karya mereka. Dan kenyataan bahwa aku selalu memprioritaskan kualitas lagu dari segi kesinambungannya dengan perasaan. Tentu saja ini relatif, aku tidak bermaksud mengumpulkan orang-orang marah yang merasa idola mereka terhina kemari. Aku hanya menyampaikan aspirasi. Dan bukankah itu yang dilakukan orang-orang dalam dunia maya?

Berikut tadi hanyalah segelintir pernyataan yang meyakinkanmu untuk tidak mempercayaiku. Kau tidak harus repot-repot mengerti perkataanku atau memahamiku. Aku jenis orang aneh yang lebih memilih untuk tidak dimengerti kok. Jadi saat aku berkata, aku lebih memilih sakit terus karena tidak bisa makan apel ketimbang pergi ke dokter mencari pertolongan, kau akan mendapatkan sketsa gambaran mengenai jenis orang seperti apa aku ini. Sebut aku bodoh atau depresi atau apa saja. Realistis itu mudah dan sakit.




Depresi, L.

Saturday, 5 January 2013

Dear, Near


Anime.

Apalagi yang dibutuhkan orang sepertiku selain hal seperti Anime untuk bertahan hidup? Aku tidak melihat sisi baik dalam hidupku saat ini. Belum. Bukan, memang tidak. Aku tidak bisa pergi kemana-mana dengan otak seperti ini. Aku sejujurnya tidak ingin pergi kemana-mana karena nyatanya kau disini. Bukan secara romantis. Sedikit memaksa, tapi aku masih bisa melihatmu dibalik menara itu.

Alasanku menggunakan kata itu untuk mengawali hal ini bukan lain karena itu adalah dirimu. Dan karena kau adalah satu-satunya orang yang sangat aku ingin untuk tahu tentangku. Apakah aku terdengar memaksa? Tidak. Aku bukan orang seperti itu. Aku tidak agresif. Aku bekerja dengan tenang, berbaju besi-kan kebohongan. Tapi tetap saja baju besi sangat mencolok di matamu, kau dan aku tahu itu.

Aku menyukaimu. Mungkin kau sudah tahu. Semuanya tahu. Mungkin karena baju besi memang tidak cocok ya? Tapi aku bahkan tidak peduli. Aku tidak peduli dengan kemungkinan-kemungkinan dan paradigma mereka ataupun paradigmamu. Tidak lagi. Terdengar egois? Ya. Aku memang dilahirkan untuk jadi egois. Tapi aku sangat kecil dan tidak terlihat. Dan dunia begitu egois. Aku tidak menyalahkanmu, oke? Tapi ini sakit sekali.

Jadi dimana kau? Oh ya ampun aku melakukannya lagi. Haha. Kau memang tak seharusnya menuruti ego ku kan? Aku bukan siapa-siapa kan? Maaf maaf. Bisa kita ulang lagi?

Hei aku bisa saja menangis tersedu-sedu saat itu. Saat ini juga. Tapi aku melihatmu. Berdiri dibalik menara itu. Aku bisa melihatmu yang sedang melakukan gerakan lucu di lingkup jangkauanku. Aku melihatmu. Aku senang.

Kadang-kadang aku berkhayal, apakah kau pernah berharap untuk melihatku dalam satu detik saja di hari-harimu?

Aku mulai lagi, Near. Maafkan aku. Kau pasti sedang sibuk sekarang. Sungguh aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin menjagaku tetap berada di rute yang aku ingini. Aku tidak ingin tersesat. Tidak lagi.

Bersenang-senanglah dengan mainan barumu.




L


***

"Animenya udah 100% noh"

"Eh?" Aku menoleh dan mendapati satu jitakan keras di dahiku. Sementara aku memegangi dahiku dan menggerutu pelan, si penjitak melenggang santai kemudian duduk di kursinya yang kebetulan tepat di sampingku. Dia melongok sekilas pada kertas yang sedari tadi aku tekuni.

"After all this time?" tanyanya defensif.

"Always." jawabku sambil menyahut kertas-garis-miring-surat-itu dan memasukkannya dalam tas. "Cuma ngisi waktu luang sambil nungguin download-an anime kok, Yooo"

Aku merasakan matanya mengawasiku yang sedang memandangi layar netbook kesayanganku. Dengan tatapan 'apa lo liat-liat?' yang kulempar padanya, aku menyudahi acara download anime untuk hari ini. Dia hanya mengangkat bahu. Rio memang aneh. Kadang dia kekanak-kanakan sekali. Tapi dalam beberapa detik dia bisa menjelma jadi cowok paling dingin seantero jagat raya. Tapi aku memepercayai Rio lebih dari aku mempercayai diriku sendiri. Aku hanya ingin percaya saja.

"Nggak berniat ngirimin satuuu aja?" tanya Rio lagi.

"A-apa?"

"Surat-suratmu. Buat 'Near'." Dia mengisyaratkan tanda kutip dengan jari-jarinya nya pada kata Near. Dia tahu betul aku melarang keras untuk mengucapkan nama asli Near."Buat apa sih kamu nulis kalo kamu nggak biarin dia baca?"

Aku tertohok tepat di dada walaupun tidak secara harfiah. Tenggorokanku tercekat tanpa seizinku. Tapi aku tidak berniat menangis di depan Rio. Sama sekali tidak. Jadi aku segera mengemasi barang-barangku, menarik tas ranselku dari kursi, dan pergi.

Aku bisa saja melakukannya, Yo. Tapi ini nggak semudah itu. Perasaanku memang rumit. Aku nggak bisa menyalahkan siapa-siapa soal ini. Aku takut. Lebih dari apapun aku takut. Aku takut kehilangan dia tepat di depan wajahku. Aku tahu aku pengecut. Kamu bisa bego-begoin aku kok.

Aku baru sampai di ambang pintu kelas saat aku mendengar Rio berkata dengan volume keras.

"Doesn't it hurt?!"

Langkahku terhenti. Aku tidak bisa menghiraukan pandanganku yang memburam dengan cepat. Dia berteriak lagi saat tidak mendapati sepatah katapun dariku.

"Your heart, doesn't it hurt?!"

Aku tidak bisa berpura-pura tidak peduli tentang setetes cairan yang jatuh saat aku berkedip. Tidak lagi.

"Iya." kataku. Suaraku pecah dan lagi-lagi aku tidak bisa menghentikannya. "Iya, yo. Sakit. Emangnya kenapa? Emangnya aku bisa apa?"

Dengan satu senyum tulus yang aku usahakan dengan keras, aku melangkah pergi. Kali ini benar-benar pergi, karena Rio tidak berkata apa-apa lagi.

Kalau saja aku bisa, Yo. Aku payah ya?




=================


Eyaaak kembali lagi bersama saya pemirsa, membawa karya yang galau abisss XD Ini adalah karya yang saya partisipasikan buat semacam kompetisi giveaway 'Sometimes'.
Yaaa gimana yaaak namanya juga amatiran, mohon maklum aja XD Habis saya beneran pengen punya novel Kak David u.u Aku pernah baca satu chapter doang dan waaauw. Yaudinlah doain saya menang! \^o^/


Ya-ha!
L

Saturday, 10 November 2012

Anda bisa sebut ini sekuel atau fanfic atau bahkan ungkapan hati saya

Remi and Keenan belongs to Tante Dee. I swear. But the lines are mine.




Cahaya Remi makin terik, makin hangat. Aku mulai nyaman. aku nggak bisa--bahkan enggan--untuk menyingkir. Remi selalu baik. Selalu pintar. Bahkan aku tidak lagi menghiraukan jarak umur yang membentang di tengeh-tengah kami. Terlepas dari semua title yang ia bangun, dia adalah Remi. Orang yang aku kenal. Bahkan mungkin aku sayang. Mungkin.

Aku menyayangi Keenan. Aku tidak lupa akan hal itu. Sama sekali tidak. Hanya saja menghadirkannya ke dalam pikiranku tidak lagi membuat hati dan pipiku menghangat. Bayangannya justru membuatku menunduk. Atau paling tidak menengadah, supaya air mataku tidak jatuh ke bawah (haha). Aku tetap menyayangi Keenan dengan sepenuh hatiku. Bagaimanapun pikiran-pikiran realistis terus menampar-nampar wajahku agar bangun dari khayalan bodohku.

Dia jauh. Tidak melihatku. Apalagi menyayangi? Rasanya aku mau membenturkan kepalaku ke tembok saja tiap kali jawabannya muncul ke permukaan.

Dulu, dia terasa dekat lebih dari apapun. Dan ini sudah berlangsung lama sekali aku mengelak kehadiran Remi demi meyakinkan diriku kalau perasaanku tentang Keenan memang benar. Aku tidak mau berpindah. Aku tidak mau berpindah kemanapun. Tapi sungguh ini sudah terlalu lama. Aku bukan lelah. Ini bukan kelelahan. Perasaan ini bukan lelah menunggu. Bukankah cinta tidak mengenal kata lelah? Lagipula apa yang aku tunggu? Aku bahkan tidak membiarkan Keenan tahu segalanya. Tahu tentang diriku. Persaanku. Ini bukalah kesalahannya. Ini murni kebodohan dari keegoisanku.

Jadi haruskah hari ini, detik ini, aku melepaskannya ke aliran air yang akan membuatnya makin jauh dari hidupku? Haruskah hari ini, detik ini, aku menyambut tangan yang telah sekian lama terulur tulus padaku? Bagaimanapun, bagaimanapun jauh di dalam hati aku masih ingin Keenan dan segala tentangnya melingkupi duniaku.

Tapi, Keenan, aku percaya kalau perasaan ini memang benar, alirannya akan membawamu kembali. Aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal. Karena itu terdengar menyedihkan sekali. Jadi, selamat datang, Remi. Aku juga menyayangimu.

Thursday, 8 November 2012

Tidak Gampang

Kita tahu sifat manusia ada 4 tipe; Sanguinis, Plegmatis, Koleris, dan Melankolis. Kebetulan saya digolongkan dalam tipe terakhir, melankolis. Melankolis bukan tipe orang yang menye-menye seperti yang biasa digambarkan orang-orang setiap denger kata Melankolis. Walaupun tidak menutup kemungkinan kalau ada yang menye-menye beneran.

Menjadi seorang melankolis itu tidak gampang. Untuk memendam ribuan perasaan itu menyesakkan. Untuk tidak dilihat dan tidak terdengar itu sakit. Untuk menjadi perfeksionis itu menyiksa.
Saya juga tidak semena-mena minta sama Allah untuk dijadikan melankolis yang susah bicara. Kalau saja saya bisa memilih juga mungkin saya bakal memilih melankolis yang bisa berbicara lancar di depan umum, yang sifatnya terbuka, yang suka bersosialisasi dan masih banyak yang-yang yang lainnya.

Nyatanya saya adalah saya. Yang semi-individualis. Yang lebih sukses bekerja sendiri ketimbang dengan kelompok. Yang tertutup. Yang hanya meletakkan cerita-cerita hidup saya pada orang-orang yang saya anggap amanah.Yang hidupnya penuh ilmu kebatinan (alias lebih banyak berbicara dalam pikiran daripada dibentuk riilnya)

Saya pernah sharing sama teman saya yang juga Melankolis akut. Namanya Hedy Gading. Tidak terlalu dekat dengan saya, hanya saja lingkungan mengenalkan saya pada Hedy. Hedy pintar banget, pendiam, mukanya datar sedatar tv plasma, dan dia selalu digosipkan maho sama teman-teman, tapi dia lebih sering diam saja. Deep down inside, saya yakin Hedy itu anak yang baik.
Saya sama Hedy saling sharing tentang bentuk ke-melankolisan kita dan menemukan banyak banget persamaan. Sharing sama Hedy bikin saya kagum sama Yang Maha Pencipta. Bahwasanya Dia Maha Besar banget menciptakan manusia sesempurna ini raganya, tidak lupa jiwanya. Dan dia nggak membiarkan makhluk sperti saya terpuruk dalam ke-melankolisan. Sendirian, tertutup, tidak kedengaran. Nyatanya masih banyak sekali di sekitar saya yang punya kepribadian hampir sama dengan saya.

Tapi tetap saja, sekali lagi menjadi melankolis tidak mudah sama sekali.

Apalagi jika dihadapkan pada tipe-tipe yang lainnya. Ayah saya koleris. Sahabat terdekat saya sanguinis. Berada di jangakauan mereka membuat saya kadang iri. Pikiran-pikiran atau ilmu kebatinan membumbung memutari kepala saya yang jelas-jelas sudah dipenuhi rumus-rumus trigonometri. Pikiran seperti, Kenapa dia gampang banget ngomongnya sedangkan aku enggak? Kenapa aku nggak ngungkapin yang tadi aku pikirin? Kenapa sih aku harus ngecek lebih dari 3 kali buat perkalian 26 kali 7?

Kenapa-kenapanya banyak banget. Tapi aku belajar dari tulisan seseorang bahwa hidup itu bakal percuma kalau diisi dengan keluhan keluhan dan keluhan. Saya selalu berusaha untuk meminimalisir keluhan saya pada Yang Maha Kuasa. Bahwa Allah menciptakan saya yang begini adanya itu pasti ada maksudnya. Bahwa kalau saya jadi plegmatis atau sanguinis pasti bakal nggak sebaik rencana Allah.

Saya remaja 16 tahun. Saya pribadi merasa sudah di penghujung hidup saya, sudah tua sekali, terlambat untuk melakukan ini itu. Tapi bagi paradigma diluar sana 16 tahun itu cuma tunas. Belum mengerti apa-apa. Masih panjang hamparan ceritanya. Jadi saya mencoba mempercayai saja apa-apa yang dikatakan orang. Bahwa saya masih harus berusaha. Bagaimanapun Allah menghendaki Adhe Lisa Kurnianingsih.